Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salam Sejahtera, Om Swasti Astu, MERDEKA!!!
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, saya cintai dan saya banggakan,
Pada hari ini, tanggal 27 Mei 2008, pada Rapat Kerja Nasional Ke III PDI Perjuangan, kita kembali bertemu, menyatukan pikiran, sikap dan langkah untuk mencapai satu tujuan yaitu memenangkan pemilu 2009.
Untuk menjadi pemenang, kita harus mulai dari dalam diri kita, dari organisasi partai kita. Niat dan tekad kita untuk berbenah diri secara terus menerus untuk menjadi yang terbaik, serta mengkonsolidasikan diri baik struktural, fisik maupun mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam proses menuju kemenangan tersebut.
Bagi saudara-saudara kader PDI Perjuangan yang masih terlelap dalam tidur panjang, terlena dalam mimpi kenikmatan; Bangun dan segeralah bekerja! Bagi mereka yang sudah terjaga dan belum berbuat apa-apa; Segeralah bekerja dan turun kebawah! RAKYAT MENAGIH DAN MENANTIKAN KERJA-KERJA NYATA KITA!
Kini sudah waktunya bagi kita untuk terus menerus BERGOTONG ROYONG, BERSATU, BEKERJA, dan BERJUANG untuk MENYONGSONG PERUBAHAN. Membangun Negeri ini, Membangun Bangsa ini untuk mendapatkan keunggulan, dan kejayaannya sebagai sebuah bangsa dan negeri yang berdaulat, sejahtera dan bermartabat.
Saudara-Saudara sekalian yang saya banggakan,
Tujuan Umum dari PDI Perjuangan seperti yang tertera dalam Anggaran Dasar Partai Pasal 6 adalah memperjuangkan tercapainya cita-cita proklamasi.
Itulah alasan paling mendasar mengapa kita harus memenangkan pemilu yang akan datang. Karena PDI Perjuangan merasakan bahwa cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagaimana dimaksud dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 belumlah tercapai dan masih jauh dari yang kita harapkan.
Oleh sebab itu, dalam kesempatan bersejarah ini, marilah kita bersama-sama menggelorakan kembali semangat kebangkitan nasional, SEMANGAT merenungkan kembali cita-cita proklamasi dan menumbuhkan tanya dalam batin kita masing-masing; Apakah kesejahteraan rakyat secara keseluruhan telah meningkat kualitasnya? Apakah rakyat telah memperoleh keadilan sosial secara merata? Adakah hak untuk memperoleh perlakuan yang sama dimata hukum sudah diperoleh rakyat? Adakah hak warganegara untuk dilindungi oleh negara tanpa memandang suku, ras dan agama telah dirasakan oleh rakyat? Adakah hidup dalam perbedaan telah cukup dihargai di negeri ini? Adakah martabat bangsa ini telah dihargai oleh dunia?
Ini semua adalah sekelumit pertanyaan-pertanyaan mendasar, yang harus selalu kita toreh bahkan kita benamkan dalam jiwa dan lubuk hati terdalam kita. Bukan semata untuk menjadi daftar panjang keterpurukan bangsa kita, namun sebagai bahan kontemplasi, pertimbangan, dan cambuk bagi kita untuk bersama-sama bahu membahu, bergotong royong dalam mencari jalan agar bangsa ini dapat keluar dari kemelut dan keterpurukan yang berkepanjangan ini.
Sekelumit pertanyaan-pertanyan diatas harus mampu membawa kita menuju pada pemaknaan baru bagi peringatan KEBANGKITAN NASIONAL. Kita harus mampu mengambil intisari, energi dan nilai paling hakiki dari perjalanan seabad kebangkitan nasioal dan tidak terjebak hanya pada pemaknaan yang seremonial.
Kita harus bangkitkan rampak kebersamaan untuk BERGOTONG ROYONG, BERSATU, BEKERJA DAN BERJUANG, saling mengisi dan mengedepankan semangat cinta kasih dalam membangun bangsa. SEBAB KITA TIDAK BISA MENANG SENDIRIAN dan KITA TIDAK MAMPU BERJUANG SENDIRIAN.
BERSATU DENGAN RAKYAT, BEKERJA DENGAN RAKYAT, BERJUANG BERSAMA RAKYAT ADALAH KUNCI DARI KEBANGKITAN, DAN PINTU DARI PERUBAHAN.
Saudara-Saudara sekalian yang saya hormati,
Pada kesempatan yang bersejarah ini, Saya ingin membagi pemaknaan saya akan arti kebangkitan nasional bagi kita semua. Sebuah pemaknaan yang telah sekian lama menjadi perenungan yang mendalam bagi saya.
KITA BERHUTANG BANYAK pada rakyat dan bangsa ini. Kita berhutang KEWAJIBAN; KEWAJIBAN mendengarkan hati nurani rakyat, KEWAJIBAN membebaskan mereka dari kemiskinan, KEWAJIBAN memberi kesejahteraan bagi mereka, KEWAJIBAN memberikan pendidikan yang lebih baik, KEWAJIBAN menciptakan perdamaian, KEWAJIBAN memberikan rasa aman dalam beribadah, KEWAJIBAN menciptakan keadilan yang sosial yang merata, KEWAJIBAN memuliakan dan meneruskan cita-cita para pendiri dan pejuang bangsa, dan KEWAJIBAN MENGEMBALIKAN MARTABAT BANGSA INI!
Saudara-saudaraku sebangsa, setanah air, setumpah darah,
KITA BERHUTANG KEWAJIBAN PADA RAKYAT DAN BANGSA INI! dengan sepenuh hati dan jiwa, saya mengajak kita semua yang hadir diruangan ini, warga PDI Perjuangan di seluruh pelosok negeri, dan seluruh rakyat Indonesia yang saya kasihi, MARI BERSATU DAN BEKERJA! inilah saatnya kita KITA PENUHI KEWAJIBAN KITA PADA NEGERI TERCINTA INI, PADA TUMPAH DARAH INI.
Bagi saya, sebagai Ketua Umum Partai dan sekaligus sebagai warga bangsa, jawaban hakiki dari seluruh proses perenungan itu adalah perlunya penguatan Pancasila sebagai landasan berbangsa dan bernegara. Keyakinan kita bahwa Pancasila mendukung persatuan kesatuan, Pancasila mendukung lluralisme, Pancasila mendukung demokrasi dan Pancasila mendukung rakyat adalah sebuah keniscayaan yang harus melekat dan menjadi pedoman dalam tindakan maupun kebijakan politik ataupun kebijakan publik yang akan kita ambil dalam kehidupan berbangsa.
Saudara-Saudara sekalian yang saya banggakan,
Itulah pemaknaan filosofis sekaligus ideologis dari kalimat-kalimat awal pidato saya ini ketika saya mengatakan bahwa kita harus memenangkan pemilu 2009.
SINGKATNYA, MEMENANGKAN PEMILU 2009 BAGI PDI PERJUANGAN TIDAK HANYA SEKEDAR MENGGAPAI KEKUASAAN POLITIK, TETAPI MERUPAKAN JEMBATAN EMAS UNTUK MEMBANGUN BANGSA, MEMBANGUN NEGERI YANG MENGEDEPANKAN KEPENTINGAN RAKYAT DI ATAS KEPENTINGAN SEGALANYA.
Mengapa saya sebut sebagai jembatan emas, karena potensi kekayaan alam Indonesia yang sungguh sangat luar biasa. Jika potensi itu bisa dimanfaatkan secara maksimal, maka akan memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.
Saudara-Saudara Sekalian yang saya hormati,
Saat ini, kita sebagai negara dan bangsa masih berada dibawah bayang-bayang hitam tingginya angka kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan dan kesejahteraan penduduk Indonesia serta krisis lingkungan hidup, pangan dan energi, serta yang paling ironis adalah masih terjadi ketimpangan kemajuan antara wilayah barat Indonesia dan wilayah timur Indonesia.
Potret kemiskinan rakyat Indonesia menunjukkan realitas hidup bangsa Indonesia yang sungguh dilematis. Menurut Data BPS 2007; Lebih dari 37 juta rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan. 63,58 persen diantaranya adalah rakyat yang tinggal diperdesaan dan 70 persennya adalah rakyat tani.
Tak perlu kita berkaca pada bangsa Serumpun Melayu, pasti hasilnya akan memalukan diri kita sendiri. Mungkin kita semua patut mempertanyakan dalam sanubari kita martabat dan harga diri bangsa. Bukankah bangsa kita dikenal sebagai bangsa besar, multietnik dan multikultur? KATA BUNG KARNO; “DARI TUJUH ARAH MATA ANGIN TAK ADA YANG MAMPU MENANDINGI KEBESARAN DAN KEKAYAAN BANGSA INDONESIA”. Namun, kesemua itu ternyata tidak bisa menjawab akar permasalahan atau subject matters dari kemiskinan rakyat Indonesia.
Mengapa kita dijajah hingga 350 tahun lebih? Pasti karena melimpahnya kekayaan alam yang kita miliki. Kita hanya akan menjadi bangsa besar jika kekayaan alam itu dijiwai oleh sebuah semangat juang yang tinggi, sebuah dedication of life kata Bung Karno:
“KARMANE, FADIKARATSE, MAPPALESSU, KADYATNA”,
Laksanakan tugasmu dengan sebaik-baiknya, serela-relanya, dan seikhlas-ikhlasnya.
Sebab jika engkau tidak memetik buahnya maka anakmu yang akan memetiknya.
Jika bukan anakmu yang memetik,
PASTI cucumu yang akan memetik hasilnya!
Saudara-saudara sekalian,
Masalah kemiskinan bersifat multidimensi dan kompleks. Itu karena masalah ini bukan hanya menyangkut ukuran pendapatan, melainkan juga karena menyangkut kerentanan atau vurnability dan kerawanan seseorang atau masyarakat untuk menjadi miskin.
Selain itu, kemiskinan juga menyangkut kegagalan dalam pemenuhan hak dasar dan adanya perbedaan perlakuan seseorang atau kelompok masyarakat dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Kemiskinan juga terjadi atas kebijakan pemerintah yang menunjukkan ketidakberpihakan pada rakyat.
Kemiskinan yang sebagian besar dialami masyarakat perdesaan utamanya disebabkan oleh keterbatasan akses atas sumberdaya; lahan, modal, skill atau ketrampilan, informasi dan politis dimana rendahnya posisi tawar.
Sehingga atas dasar pertimbangan diatas maka sudah saatnya program-program yang mengatasnamakan pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan lebih diarahkan kepada penguatan akses infrastruktur yang didasari atas pembangunan perdesaan dan pertanian/kelautan yang mondorong tumbuhnya penguatan martabat, kemandirian, daya juang, serta keberdaulatan rakyat.
Saudara-saudara sekalian yang saya banggakan,
Meningkatnya ketidakstabilan ekonomi pada 2008 dipicu oleh kenaikan harga BBM dan harga pangan, ditengah semakin menurunnya daya beli masyarakat khususnya golongan menengah bawah.
Kenaikan harga BBM sudah pasti akan diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan bahan pokok. Mungkin apa yang coba dilukiskan dalam salah satu lirik lagu Iwan Fals “BBM naik tinggi susu tak terbeli, Orang pintar tarik subsidi, Anak kami kurang gizi” akan berbuah menjadi sebuah kenyataan.
Menaikkan harga BBM, dengan retorika bahwa subsidi BBM lebih menguntungkan orang kaya yang punya kendaraan, daripada para tani-nelayan dan rakyat miskin adalah wacana yang harus kita telaah secara kritis.
Kenyataan menunjukkan dalam perjalanannya, pemerintah sejak oktober 2004 sampai dengan saat ini telah menaikkan harga BBM (premium, solar dan minyak tanah) sebanyak tiga kali;
- 1 Maret 2005 kenaikan yang hampir 30%
- 1 Oktober 2005 kenaikan yang hampir 100%
- Dan baru-baru ini; 24 Mei 2008 kenaikan yang hampir 30%
Dan ternyata pasca kenaikan-kenaikan tersebut, secara linier, tingkat kemisikinan dan pengangguran di Indonesia tidak menunjukkan suatu perbaikan.
Memang benar bahwa pada saat saya menjabat sebagai Presiden, sayapun pernah menelurkan kebijakan menaikkan harga BBM. Tetapi kebijakan tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati dan benar-benar mempertimbangkan kemampuan daya beli masyarakat ketika itu.
Kitapun tak pernah ditunjukkan bukti adanya buruh, petani dan nelayan yang hidupnya semakin baik bahkan menjadi kaya dengan kebijakan pemerintah kali ini. Harga pangan global kian melejit, sementara harga dasar gabah hanya naik tak lebih dari sepuluh persen.
UNTUK ITU, MELALUI RAPAT DPP PARTAI, SAYA TELAH MENGINSTRUKSIKAN KEPADA FRAKSI DPR - RI UNTUK MENGGUNAKAN HAK KONSTITUSINYA DALAM MENGKRITISI DAN MENOLAK KEPUTUSAN PEMERINTAH DALAM MENAIKKAN HARGA BBM.
Saudara-Saudara sekalian yang saya banggakan,
Itulah persoalan-persoalan kebangsaan yang hari-hari ini kita hadapi, dan sebagai warga bangsa dan kader PDI Perjuangan, kita harus bahu membahu bergotong royong menangani persoalan tersebut sesuai dengan kemampuan dan kewenangan yang kita miliki.
Kita tidak boleh berpangku tangan dan hanya menjadi penonton melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh saudara-saudara kita. Kita harus terus menyuarakan jeritan nurani mereka, memperjuangkan aspirasi mereka, dan membantu mereka mencarikan jawaban dari persoalannya baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada kesempatan yang sangat berharga ini Saya menginstruksikan kepada seluruh kader PDI Perjuangan khususnya mereka yang diberikan mandat oleh partai yang duduk dalam legislatif maupun eksekutif untuk dapat mengambil peran secara aktif dan kreatif mengatasi persolan-persoalan bangsa ini.
Saya tidak ingin mendapatkan laporan, tidak ingin melihat, dimana kader PDI Perjuangan yang dipercaya oleh rakyat untuk menjadi kepala daerah, kemudian di daerah tersebut terjadi kelaparan, banyak anak yang putus sekolah, banyak keluarga miskin tidak memiliki akses untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan yang layak. Saudara-saudara harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mengatasi hal tersebut.
Saudara-saudara harus menunjukkan bahwa kader PDI Perjuangan adalah kader yang memiliki kekuatan ideologis kerakyatan yang bukan hanya berhenti di slogan tetapi juga pada tindakan nyata.
Saudara-Saudara sekalian yang saya banggakan,
Sampailah saya di penghujung sambutan saya, dan saya berharap Rakernas kita yang ketiga ini tidak hanya sekedar menjadi ajang yang bersifat seremonial, tetapi hendaknya menjadi ajang konsolidasi, koordinasi yang merangsang kita untuk lebih BERGOTONG ROYONG, BERSATU, BEKERJA dan BERJUANG untuk menyongsong dan membuktikan perubahan yang dinantikan oleh rakyat.
Untuk mencapai hal tersebut maka materi Rakernas kali ini akan dititikberatkan pada pembahasan SK Penjaringan dan Penyaringan Calon Anggota Legislatif, BP Pemilu Legislatif, dan BP Pemilu Presiden.
Semoga Allah Subhana Wataala, selalu melindungi dan memberikan rahmatNya dalam setiap jejak langkah perjuangan kita.
Dengan mengucap Bismillahirahmanirrahim, sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, saya buka Rakernas III PDI Perjuangan secara resmi.
Sekian dan terimakasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Om Santi Santi Santi Om
MERDEKA!!!
Megawati Soekarnoputri