Jeddah – Pada tanggal 25 November 2008 Team Pemantau Haji PDI Perjuangan yang berjumlah 5 orang yang dipimpin oleh Ibu Hj. Eka Sapta selaku Wakil Sekretaris I Korwil Arab Saudi sekaligus calon legislatif DPR RI Dapil Lampung 2 berangkat ke kota Makkah pada pukul 07.25 waktu setempat untuk melaksanakan tugas Korwil khususnya memantau pelaksanaan Haji tahun 2008 M / 1429 H sekaligus berkomunikasi dengan Jama’ah Haji Indonesia. Selama melakukan pemantauannya, ada beberapa hal yang menjadi catatan utama yang perlu dipertanyakan atau dipertanggung jawabkan oleh pemerintah RI khususnya Departemen Agama selaku Penyelenggara.
Dalam laporan team pemantau Haji PDI Perjuangan Arab Saudi, Ibu Hj. Eka Sapta selaku pimpinan rombongan tersebut menyampaikan beberapa permasalah, seperti halnya yang kita ketahui bahwa Pemerintah Saudi Arabia saat ini telah melakukan pembokaran sekitar Masjid Al Haramain dengan maksud untuk merenovasi dan memperlebar sekitar Masjid. Dengan adanya hal tersebut Departemen Agama RI selaku penyelenggara Haji memutuskan dan terpaksa menyewa tempat tinggal atau pemondokan Jama’ah Haji Indonesia dengan jarak yang jauh dari Masjidil Al Haramain yang kira – kira 12 KM. Dengan adanya hal tersebut, Penyelenggara Haji RI seperti yang kita ketahui beralasan bahwa pemondokan yang dekat dengan Masjid Al Haramain telah dirobohkan. Tetapi dalam hal ini sesuai pantauan yang kita lihat, bahwa gedung atau pemondokan yang dirobohkan tersebut adalah pemondokan yang biasa digunakan oleh ONH Plus. Dan yang menjadi pertanyaan Korwil dan Team Pemantau Haji PDI Perjuangan Arab Saudi yaitu Mengapa daerah yang biasa atau bertahun tahun digunakan oleh para Jama’ah Haji Indonesia seperti Misfala, Kudai, Bahutma, Jarwal, Hafayer, Tayser, Hujun tidak dipergunakan atau disewa kembali? Melainkan saat ini pemondokan – pemondokan di daerah tersebut yang jaraknya dekat dengan Masjidil Al Haramain telah digunakan oleh Negara lain seperti Afrika, India, dan Pakistan. Tetapi sangat disayangkan sekali Departemen Agama selaku penyelenggara Haji memilih daerah atau wilayah yang jaraknya jauh dari Masjidil Al Haramian seperti Sauqiyah, Kakkiyah, Awali, Nuzha, Zahir. Dengan ditempatkan di daerah atau wilayah tersebut, Jama’ah Haji Indonesia kesulitan untuk mencari toko atau restauran. Hal ini telah membuat Jama’ah Haji Indonesia tersiksa karena harus menerima kenyataan yang tidak semestinya.
Dan juga dengan ditempatkan Jama’ah Haji Indonesia yang jauh dari Masjid Al Haramain, Departemen Agama selaku penyelenggara Haji mengambil solusi menyediakan Transportasi dari Pemondokan ke Masjid Al Haramain atau sebaliknya. Langkah itu memang sudah baik tetapi dalam pengaturan dan pelaksanaannya sangat kacau sekali seperti halnya jama’ah Haji harus berlari lari dan berdesak desakan untuk masuk kedalam Bus yang telah disediakan. Jama’ah Haji Indonesia yang ditemui oleh Ibu Hj. Eka Sapta beserta rombongan banyak yang mengeluh dengan situasi dan kondisi tersebut, sebab hal itu telah membuat rasa tidak nyaman bagi para Jama’ah khususnya keselamatan mereka. Serta dengan minimnya penyediaan Transportasi, para Jama’ah Haji Indonesia harus menunggu berjam jam kedatangan Bus Angkutan tersebut serta yang menyedihkan sekali banyaknya Jama’ah yang usia lanjut Dan juga demi menjaga keselamatannya para Jama’ah Haji Indonesia terpaksa memilih untuk berdiam diri dan menginap di sekitar Masjid Al Haramain. Adapula beberapa Jama’ah Haji Indonesia yang ingin mengambil jalan pintas seperti menggunakan TAXI, tetapi hal terssebut dapat dikhawatirkan Jama’ah Haji akan mudah tersessat.
Atas dasar itulah Ibu Hj. Eka Sapta beserta rombongan berharap agar Departemen Agama selaku penyelenggara Haji untuk menambah jumlah penyediaan transportasi bagi Jama’ah Haji Indonesia serta tak lupa agar Kantor Haji Indonesia di Jeddah dalam pengajuan Pemondokan ( seleksi ) jangan didasari dengan harga murah atau tender orang dekat, melainkan keselamatan dan kenyamanan para Jama’ah Haji Indonesia dalam melaksanakan Ibadah Haji dipikirkan matang – matang. Serta dengan pengembalian uang yang dilakukan oleh Departemen Agama selaku Penyelenggara Haji bukan suatu langkah yang akan membuat para Jama’ah Haji bahagia melainkan sebaliknya; ujar Hj. Eka Sapta
Kembalinya Team Pemantau Haji PDI Perjuangan ke Jeddah pada tanggal 28 November 2008 pada pukul 14.08 waktu setempat, Korwil Arab Saudi langsung mengadakan rapat dihari yang sama pada pukul 20.00. Dalam hal ini Sharief Rachmat selaku Mandataris /Plh. Ketua Korwil memberikan ucapan selamat atas kesusksesan para team pemantau Haji PDI Perjuangan atas menjalankan tugasnya.Dan laporan – laporan tersebut akan disampaikan ke DPP dan FPDI Perjuangan. Serta Sharief dalam hal ini juga menilai bahwa Team Pemantau DPR RI yang telah melakukan tugasnya beberapa hari yang lalu dinilai kurang maksimal. Sebab dapat disimak dalam berita – berita, para team pemantau Haji DPR RI hanya mengkritisi masalah Transportasi melainkan masalah pemondokan tidak diutarakan. Hal ini berarti ada perbedaan yang signitifikan dalam memantau pelaksanaan Haji. Atas dasar itu pada tanggal 29 November 2008 Sharief Rachmat menghubungi KH Hasib Wahab selaku team pemantau Haji DPR RI via Handphone yang saat itu sedang dalam perjalanan ke Madina, menyarankan agar team pemantau Haji DPR RI dari FPDI Perjuangan bersedia melakukan pertemuan dengan Korwil PDI Perjuangan Arab Saudi yang bertujuan membahas seputar hasil pantauan team PDI Perjuangan Arab Saudi dan FPDI Perjuangan DPR RI yang nota benenya menyatukan suara dan hasil laporannya. (Iqbal)
Laporan Team Pemanatau Haji
PDI Perjuangan Arab Saudi
Hj. Eka Sapta
Wakil Sekretaris I
Calon DPR RI Dapil Lampung 2
HP. ( Indonesia – 0062 81382156515 ) & ( Arab Saudi – +966 504381048 )


